Kamis, 08 November 2012

Resensi Film The Adventures of TINTIN


the-adventures-of-tintin-movie-poster.jpg
Masih ingatkan anda tentang film kartun era 90an yang mempilkan tokoh wartawan remaja dengan wajah bulat, pipi merona, dengan jambul yang khas serta selalu ditemani oleh anjing putih yang setia? Siapa lagi kalau bukan TINTIN. Yah, tahun 2011 yang lalu para penggemar film animasi Tintin diberikan kejutan dengan kehadiran film terbarunya dalam bentuk 3 dimensi yang berjudul THE ADVENTURES OF TINTIN. Saya sendiri sangat menyukai film animasi yang sangat melengenda ini.

Penokohan
Tintin (Jamie Bell) yang menjadi tokoh utama dalam film ini merupakan seorang wartawan muda yang memiliki rasa penasaran yang tinggi akan sesuatu misteri yang kadang dapat menuntunnya pada masalah besar dengan risiko tinggi. Di saat yang sama, naluri itu juga yang membawa Tintin bertemu banyak karakter menarik termasuk Captain Haddock (Andy Serkis). Kali ini, petualangan Tintin bakal sepenuhnya melibatkan kapten kapal yang hobi mabuk dan memaki-maki ini. Dan yang lebih menarik lagi, ada harta karun yang tak ternilai harganya menunggu untuk ditemukan.

Sinopsis
Petualangan bermula dari sebuah replika kapal Unicorn yang dijual di pasar loak. Tintin tertarik pada kapal ini karena detilnya yang sangat mengagumkan. Celakanya, ada beberapa orang yang ternyata juga berminat pada kapal ini. Bukan sekedar berminat, mereka siap melakukan apa saja untuk memiliki kapal kecil ini. Jelas saja ini membuat naluri penyelidik Tintin tergugah. Pasti ada sesuatu yang istimewa dari kapal replika ini.
Tintin ternyata bukanlah satu-satunya orang yang memiliki replika kapal Unicorn. Captain Haddock juga punya kapal replika yang benar-benar sama. Malahan, menurut Capatain Haddock, kapal Unicorn adalah kapal yang berlayar di bawah komando nenek moyang Captain Haddock. Kapal ini jadi target bajak laut bernama Red Rackham (Daniel Craig) namun harta yang tersimpan di dalamnya tak pernah ditemukan.

Kelebihan dan Kekurangan
Secara keseluruhan film ini memang sangat keren dan bisa memukau para penontonnya, karena dengan disertai animasi- animasi modern yang dibuat oleh animator terkenal dunia. Salah satunya ada yang berasal dari tanah air Indonesia yaitu Rini Sugiarto. Dengan durasi film 107 menit, penonton dibuat terkagum- kagum serta kadangkala tertawa karena memang film ini merupakan animasi komedi yang memberikan kesan lucu disela- sela filmnya. Untuk kekurangannya menurut saya hampir tidak ada alias nyaris sempurna, hanya saja perlu diberi tambahan efek- efek yang lebih menegangkan agar penonton semakin penasaran. Kisah Tintin memang bukan kisah yang asing. Komik karya Herge ini sempat begitu populer beberapa tahun yang lalu. Jadi layak kalau Steven Spielberg dan Peter Jacksonbegitu berminat mengangkat kisah petualangan jurnalis muda ini ke layar lebar. Memang tak semua film adaptasi komik bisa sukses namun dengan sederet nama besar yang sudah berpengalaman, rasanya cukup aman untuk mengatakan kalau The Adventures of Tintin ini layak untuk ditunggu.

Genre
:
Animasi
Tanggal Rilis
:
21 Desember 2011
Sutradara
:
Steven Spielberg
Pemain
:
Jamie Bell, Andy Serkis, Simon Pegg, Nick Frost, Daniel Craig
Naskah
:
Steven Moffat, Edgar Wright, Joe Cornish
Produser
:
Sir Peter Jackson, Steven Spielberg, Kathleen Kennedy
Distributor
:
Columbia Pictures
Durasi
:
107 menit
Dana Produksi
:
-
Situs Resmi
:

Jumat, 12 Oktober 2012

Wisata di Jogjakarta


Beberapa minggu yang lalu atau lebih tepatnya saat liburan smester ganjil, saya berkesempatan untuk berliburan ke Jogjakarta. Selama hampir 20 hari disana, saya mengujungi beberapa tempat wisata yang menurut saya bagus dan wajib dikunjungi. Bersama adik dan sepupu, saya memulai liburan dengan pertama kali mengunjungi candi Borobudur yang terletak di Magelang. 

saya ketika di Candi Borobudur
Kami menyewa mobil seharga Rp 250.000,-/hari. Perjalanan kami dari Jogja-Magelang hanya memakan waktu selama 2 jam. Sesampainya disana kami membeli tiket masuk seharga Rp 30.000,-/orang. Para pedagang juga ramai menawarkan topi atau sewa payung untuk disana, karena memang cuaca disana sangat panas dan terik. Saya sempat bertanya harga dari topi tersebut, dan pedangang- pedagang itu menjual topi seharga Rp 25.000 tetapi masih bisa ditawar lagi. Sedangkan untuk sewa payung cukup dengan Rp 5.000,- seharian.  Kami juga sempat mengunjungi museum borobudur dan membeli tiket masuk seharga Rp 3.000,-/orang. Setelah puas mengunjungi Borobudur, kami melanjutkan perjalanan ke daerah utara yaitu lebih tepatnya ke Ketep. Ketep merupakan tempat seperti taman untuk bersantai keluarga yang letaknya berada di dataran tinggi, sehingga dari sana kita bisa melihat keindahan panorama gunung merapi. Untuk masuk ke Ketep, kita hanya membayar tiket seharga Rp 5.000,-. Hari pun semakin sore, dan saatnya kami untuk kembali ke Jogja.

bersama adik, di Ketep
Keesokan harinya, kami berencana untuk kembali mengunjungi tempat- tempat rekreasi. Pantai Indrayanti adalah tujuan pertama kami dihari ke dua ini. Dengan kembali menggunakan jasa sewa mobil, kami melaju ke daerah selatan. Perjalanan kami tempuh selama kurang lebih 2 jam. Menurut penduduk sekitar, pantai Indrayanti merupakan “Balinya Jogja” maksudnya, pantai indrayanti  sangat bagus dan bersih layaknya pantai di Bali. Pasirnya putih dan air lautnya yang sangat jernih, menambah keindahan dari pantai tersebut. 
sepupu, adik dan saya di pantai Indrayanti
Kami juga sempat makan siang disana. Menu yang ditawarkan juga sangat beragam, kebanyakan menyediakan paket berdua, atau berempat dan lain- lain. Kami memilih makanan paket berempat yang berisi gurame bakar, sayur kangkung,sambal terasi, cumi goreng tepung, nasi sebakul, dan 4 es kelapa muda. Harganya lumayan mahal untung kantong mahasiswa seperti kami, yaitu Rp 350.000,-. Perjalanan kami lanjutkan kembali, kali ini adalah pantai Baron menjadi pilihan. Suasana berbeda kami rasakan disana. Menurut saya memang tidak seindah pantai Indrayanti. Akan tetapi wisatawan banyak yang berkunjung kesana baik lokal maupun asing. Untuk masuk ke pantai Indrayanti maupun pantai Baron kita tidak perlu membayar tiket masuk alias gratis. Suasana pada saat sore hari sangat menyenangkan disana, ada beberapa wisatawan yang mandi, bermain bola volly, atau sekedar duduk rekreasi bersama keluarga di pinggiran pantai. Saya dan adik juga tidak mau kalah, kami bermain balon yang dijual oleh pedagang disana. Ada beberapa nelayan yang siap turun ke laut untuk mencari ikan. Dengan menggunakan kapal yang mesih tradisional para nelayan tersebut beramai- ramai mendorong perahu mereka ke tengah laut. Sungguh pemandangan yang sangat jarang sekali saya temukan di Jakarta. Menikmati suasana sore hari di pantai Baron, Wonosari, Jokjakarta.



Pantai Indrayanti


Pantai Baron

bersama adik, bermain balon di pantai Baron

saya saat bermain balon di pantai Baron